Mendalami Pemikiran Imam Al-Ghazali
Oleh: Faiqur Rahman
| Sumber Gambar:https://www.belbuk.com |
Judul : Cinta Itu
Indah
Penulis : Rizem
Aizid
Penerbit : DIVA Press
Tebal : 250
halaman
ISBN :
9786023914425
Siapa sih yang
tidak mengenal Imam al-Ghazali, salah satu tokoh filsuf dan tasawuf yang
berjuluk Hujjatul Islam? Tentunya, hal ini tidak asing lagi di telinga kita.
Sebab, julukan ini di dapatkan karena beliau banyak memberikan sumbangsih
efektif terhadap perkembangan keilmuan Agama Islam. Beliau juga terkenal
sebagai penyelamat pemikir-pemikir Yunani yang masuk ke dalam Islam.
Pemikiran filsafat beliau banyak berisi tentang sanggahan
atau bantahan terhadap pemikiran-pemikiran para filsuf sebelumnya, seperti Aristoteles
(382-322 SM), Al-Farabi (874-999 M), dan Ibnu Sina (980-1037). Salah satu
pemikirannya yang juga banyak di kagumi dan telah mempengaruhi filsafat
ketimuran ialah tentang metafisika.
Menurut K. Bertens, metafisika berasal dari bahasa
Yunani, yaitu ta meta la phiysica yang artinya adalah sesuatu setelah
hal-hal yang fisik. Nah, dari definisi tersebut, maka metafisika dapat dipahami
sebagai cabang ilmu filsafat yang membahas tentang hal-hal di luar fisik atau
yang tidak bisa dilihat oleh Indra. Istilah metafisika, menurut Anton Bakker,
sudah berkembang sejak abad ke-3 SM.
Kritik-kritik yang dilontarkan oleh Imam al-Ghazali
terhadap para filsuf dahulu, beliau sampaikan dengan sangat lengkap dalam
karyanya yang berjudul Tahafud al-Falasifah (kerancuan filsafat). Karya
ini merupakan sebuah karya yang sangat masyhur dan terkenal dalam bidang filsafat.
Bahkan karya ini juga yang dapat membantu orang-orang Islam untuk menyaingi
pemikiran-pemikiran Yunani.
Imam al-Ghazali mengelompokkan filsuf ke dalam tiga
kategori. Yang pertama, filsuf materialis, artinya adalah para filsuf
yang menyangkal adanya Tuhan. Kedua, filsuf naturalis, yaitu para filsuf yang
fokus pada kajian seputar alam semesta. Namun, filsuf kategori ini juga tidak
mengakui adanya Allah SWT. dan Rasul-Nya. Bahkan mereka pun tidak mengenal
pahala dan dosa.
Ketiga, filsuf ketuhanan, yaitu tentang para
filsuf yang Yunani, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Menurut Imam
al-Ghazali, filsuf ketuhanan ini telah membantah pemikiran dua filsuf
sebelumnya. Namun, tidak membebaskan diri dari sisa-sisa kekafiran. Alhasil, ia
menganggap filsuf kategori ini dianggap kafir, termasuk pula dengan
pengikutnya, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. (hal, 24-25).
Namun, Imam al-Ghazali tidak hanya dikenal sebagai
filsuf saja, melainkan ia juga dikenal sebagai sufi. Sebab, setelah beliau
menguasai filsafat, beliau merasa belum puas dan akhirnya memilih untuk
menyendiri, merenungi terhadap apa yang telah ia kuasai. Karena, beliau
mempunyai sebuah ungkapan bahwa para sufi dan para pencari kebenaran ialah
orang-orang yang benar-benar mencapai tujuan, yaitu menemukan ilmu yang mutlak
kebenarannya.
Sehingga kemudian, beliau mulai mendekati ilmu tasawuf
melalui intelektualnya. Bahkan, beliau pernah mengungkapkan bahwa, pengetahuan
lebih mudah daripada kegiatan. Artinya, ungkapan tersebut mengisyaratkan tentang
sosok seorang Sufi yang tidak suka kata-kata, berbeda dengan para filsuf yang
ahli dalam kata-kata.
Beliau juga menganggap bahwa, orang sufi merupakan orang
yang lebih suka pada pengalaman dari pada kata-kata. Beliau pun menyadari bahwa
tujuan hidup hanya bisa dicapai lewat pengalaman pribadi, luapan gairah, dan
suatu perubahan watak. Mulai sejak itulah, beliau menekuni dunia tasawuf,
sebab, kehidupan beliau bertepatan pada saat banyak terjadi fanatisme madzhab
secara berlebihan. Sehingga banyak orang yang mudah melontarkan kata bid’ah dan
kafir terhadap orang yang berbeda paham keyakinan. (hal, 35)
Buku ini, bukan hanya mengungkap tentang pemikiran-pemikiran
filsafat Imam al-Ghazali. Akan tetapi, buku ini juga berisi tentang
nasehat-nasehat yang banyak mengandung hikmah kehidupan. Pesan-pesan cinta yang
beliau wariskan kepada kita, akan membuat hati kita lebih sejuk, dan menjadi
hidup lebih baik. ditulis dengan bahasa
yang sistematis, renyah, dan membuat kita lebih nyaman ketika membaca. Selamat
membaca!
Mendalami Pemikiran Imam Al-Ghazali
Reviewed by Faiqur Rahman
on
Maret 15, 2018
Rating:
Tidak ada komentar