Menjaga Kearifan Lokal di Indonesia

Oleh: Faiqur Rahman
Sumber gambar https://www.belbuk.com

Judul                : Mitologi Dunia
Penulis             : Heger Valdmar Revaldo
Penerbit           : DIVA Press
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 136 halaman
ISBN               : 9786023914142
Kepercayaan kita terhadap suatu mitologi adalah keputusan yang wajar. Sebab, walaupun tidak dipastikan kebenarannya, sebagian umat manusia telah mempercayai adanya hal tersebut. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa adanya mitos itu berita belaka. Karena, dalam buku ini mengungkapkan tentang berbagai mitos yang sangat populer di dunia.

Heger Valdmar Revaldo gemar membaca buku tentang sejarah dan cerita-cerita dari legenda di dunia. sehingga, ia banyak mengetahui bagaimana sejarah yang terjadi pada zaman dulu yang sampai saat ini masih populer. Buku yang diterbitkan kali ini, akan membantu kita mengetahui mitos-mitos yang terjadi di dunia.

Salah satunya adalah Gunung Merapi di Indonesia, daerah Yogyakarta. Konon, Gunung tersebut merupakan Gunung Berapi teraktif di dunia, dan ada yang menjaganya. Sehingga, yang menimbulkan pertanyaan adalah mengapa Gunung tersebut masih menimbulkan banyak korban jiwa? Apakah penjaga tersebut sudah tidak sanggup lagi untuk mengemban amanah? Ataukah penjagaan Gunung Merapi tersebut hanya sebatas mitos?

Masyarakat setempat percaya bahwa Gunung Merapi memiliki penjaga. Adanya mitos ini bermula saat Panembahan Senopati atau Sutowijoyo melakukan ritual (menyendiri) di pantai Parangkusumo. Konon, setelah pendiri Kerajaan Mataram tersebut sedang bertapa, ia didatangi oleh Ratu Kidul penguasa Laut Selatan.

Ratu Kidul mengatakan bahwa, jika ingin  menjadi Raja Jawa yang besar maka Panembahan Senopati harus memakan telur yang ia berikan. Akan tetapi, pembantu Panembahan Senopati yang bernama Ki Juru Martani menyarankan agar pendiri Kerajaan Mataram tersebut tidak memakan telur yang di berikan oleh Ratu Kidul. Ia menyarankan agar Panembahan Senopati  memberikan telur tersebut kepada Ki Juru Taman.
            Pada akhirnya, Ki Juru Taman yang memakannya.Sehingga kemudian, tiba-tiba ia berubah jadi raksasa. Setelah itu, Panembahan Senopati memerintahkan raksasa tersebut untuk menunggu Gunung Merapi yang terletak di sebelah utara kota Yogyakarta. Beliau sanggup dengan syarat, setiap tahun ia diberi sebuah persembahan yang di kenal dengan istilah labuhan menurut orang Jawa. Sejak itulah masyarakat melakukannya, yang dipimpin langsung oleh seorang juru kunci dengan tugas utamanya melaksanakan hajat tersebut.Sebelum Gunung Merapi meletus pada akhir tahun 2010, juru kunci yang memimpin labuhan adalah Mbah Marijan. (hal. 78-79).

Ada juga mitos lain yang sampai saat ini masih populer kita dengar dan saya singgung di atas, yaitu, tentang adanya Nyi Roro Kidul. Cerita ini masih banyak menimbulkan kontroversi. Akan tetapi, dalam sebuah legenda mengatakan bahwa Nyi Roro Kidul merupakan sosok perempuan yang sangat cantik, ia bernama Kendeta.  Konon, pada saat itu kecantikannya luar biasa bahkan tak ada yang bisa menandinginya.

Sayangnya, keinginan sang Ayah untuk mempunyai seorang anak laki-laki belum tercapai. Sehingga, kemudian ia menikah lagi dengan seorang perempuan yang bernama Dewi Mutiara. Karena, Ibu dari Kendata tidak bisa mewujudkan keinginan Raja Munding Wangi, Ayah dari Kendeta, sebab semua anak yang dilahirkannya selalu perempuan.

Setelah Raja Munding Wangi dengan Dewi Mutiara dikaruniai anak laki-laki, Raja Munding Wangi merasa sangat bahagia sekali. Namun, setelah anaknya menginjak dewasa, Dewi Mutiara merasa takut jika anaknya tidak bisa menjadi Raja, karena keberadaan Kendata di Istana. Apalagi waktu itu, Kendeta terkenal sebagai perempuan yang anggun dan berwibawa dihadapan masyarakat. Sehingga kemudian, Dewi Mutiara mencari sebuah cara, agar Kendeta di usir dari istana. Dengan berbagai cara yang ia lakukan, akhirnya berhasil mengusir Kendeta dari istana.

Pada saat itu, Kendeta terkena penyakit kudis, bisul, dan borok, serta sangat gatal. Bahkan ketika ia bangun tidur, tubuhnya berbau busuk. Pada akhirnya Kendeta pun di usir dari istana atas usulan Dewi Mutiara. Ayah Kendeta juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti lehendak instri leduanya itu. Akhirnya, Kendeta pergi dari istana, ia menapaki jalan sendirian sambil berdoa agar dirinya selalu di jaga dalam perjalanan.

Setelah Kendeta menempuh perjalanan selama tujuh hari tujuh malam, akhirnya tibalah di laut selatan. Ketika pertama kali tiba di tempat itu, Kendeta sangat senang sekali karena terkejut melihat laut yang terbentang luas, bersih, dan jernih, bahkan berbeda dengan air laut yang biasanya. Karena Kendeta tidak tahan melihat air laut yang dilihatnya, akhirnya ia melompat ke dalam air laut tersebut.

Tiba-tiba ia tercengang, melihat penyakit yang di deritanya sembuh, dan tak ada sedikit pun tanda-tanda bekas penyakit yang menempel di tubuhnya, bahkan Kendeta tampak lebih anggun dan mempesona dari sebelumnya. Sehingga kemudian, ia mendapat perintah untuk berkuasa di Laut Selatan. (hal. 120)

Namun, cerita tentang Nyi Roro Kidul dari sumber yang lain masih banyak. Ada yang mengatakan bahwa Nyi Roro Kidul merupakan putri terkasih dari Prabu Siliwangi. Nah! Sumber manakah sebenarnya yang benar?Apakah putri dari Raja Munding Wangi, atau putri Prabu Siliwangi? Buku ini sengaja disajikan untuk menemukan jawabannya. Selamat membaca!

*Tulisan ini dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat

Menjaga Kearifan Lokal di Indonesia Menjaga Kearifan Lokal di Indonesia Reviewed by Faiqur Rahman on Maret 15, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar